Mei. Bagiku selalu ada kesan, kenangan dan
sejarah penting di bulan ini. Mei 2013 akan segera berlalu dengan torehan sejarahnya sendiri. Mei
tahun ini memuat sejarah berarti untuk bangsa ini. 15 tahun reformasi.
Lima belas tahun. Selama itulah aku menatap
Indonesia dengan getaran yang berbeda. Umurku masih 12 tahun ketika angin
reformasi berhembus. Mei 1998. Saat itu aku sedang bersiap menghadapi EBTANAS,
menikmati hari-hari terakhir mengenakan seragam putih merah. Aku memang tidak
berhadapan langsung dengan peristiwa itu, hanya menyaksikan melalui layar
televisi hitam putih, tetapi ruh pergolakan itu terasa merasuki jiwa ragaku
yang masih bocah. Saat itu aku hanya bisa bertanya-tanya, mengapa semua itu terjadi.
Mengapa kakak-kakak mahasiswa itu berdemo, ramai-ramai turun ke jalan? Aku
hanya bisa tercengang melihat mereka menyemut memenuhi gedung MPR? Mengapa
harus ada yang meninggal? Apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan? Aku
ternganga menonton televisi yang menayangkan aksi bakar-bakar dan aneka
kekerasan lainnya.
Saat
itu aku masih
bocah, tidak banyak yang bisa kucerna. Memang sempat terlontar juga pertanyaan kritis karena kenyamanan masa
kecilku yang terusik. Mengapa presiden Soeharto dihujat
dan dituntut mengundurkan diri? Apa maksud semua itu. Dari ketidakmengertianku,
aku sangat setuju dengan sebuah puisi anak-anak yang dimuat dimajalah Bobo. Ada
sebuah larik yang menyentuh hatiku “Reformasi yang kau hembuskan hanya membuat
rumahku menjadi abu tertiup angin”.
Seiring berjalan waktu aku mulai sedikit
mengerti. Aku mengetahui semuanya dari televisi. Mengikuti semua berita politik
di TV bahkan selalu bersemangat menonton acara debat mahasiswa. Persepsiku
terhadap kakak-kakak mahasiswa itu perlahan berubah. Lihatlah hebat sekali
mereka. Pola pikirnya luar biasa. Aku berharap suatu hari bisa sehebat mereka
(tapi ternyata tidak). Dan diantara semua itu, yang paling mengesankan untuk
mengenang episode reformasi itu tentu saja puisi Taufik Ismail yang berjudul Ketika Burung Merpati Sore
Melayang. Itu salah satu puisi favoritku.
KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG
By Taufiq Ismail (1998)
Langit akhlak telah roboh di atas
negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak
tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi
begini
Negeriku sesak adegan
tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling
kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok
ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan
pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu
ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras
tergilas aku
Kapal laut bertenggelaman, kapal
udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor
dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan
berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu
berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan
air lautan
Beribu pencari nafkah dengan kapal
dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak
tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai
ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan
pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan
air lautan
Lalu berceceran darah, berkepulan
asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit
dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di
seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah
dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang
berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat
mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah
angin menangis sendiri
Kukenangkan tahun ‘47 lama aku
jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa,
Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan
Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun
revolusi
Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh
kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah
angin menangis sendiri
Ada burung merpati sore
melayang
Adakah desingnya kau dengar
sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi
jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam
cobaan
Di aorta jantungku, musibah
bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku,
kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini
murkaMu?
Ada burung merpati sore
melayang
Adakah desingnya kau dengar
sekarang
Begitulah, Aku melewati masa kanak-kanak
dengan sebuah kalimat dari sebuah acara anak-anak di TVRI “Wahai Pemimpin bangsaku, biarkan kami anak-anak negeri bermimpi. Kalian
serukan kami untuk belajar, tetapi huru hara yang terjadi membuat kami tidak
konsentrasi”.
Reformasi, sampai hari ini pun sejujurnya aku
tidak sepenuhnya mengerti. Lima belas tahun reformasi, bagaimanakah wajah
Indonesia kita saat ini? Bagaimana perkembangannya selama lima belas tahun ini?
Tidak sedikit diantara kita yang memaki carut marutnya keadaan, menghujat
pemimpin, mengutuki negeri yang sedang sakit. Lima belas tahun reformasi,
akankah selamanya kita memaki, menghujat, mengutuk, dan lain-lain sumpah
serapah? Miris hati menyaksikan kejahatan dan kekerasan tumbuh subur di negeri tercinta
ini. Harus diakui negeri kita memang sedang dilanda krisis. Dari krisis
ekonomi, krisis kejujuran, krisis keadilan hingga krisis moralitas. Korupsi
seperti benalu yang terus membelit, begitu sulit kita melepaskan diri dari
lilitannya. Sedangkan keadilan sungguh tidak lagi memiliki tempat di sini.
Lima belas tahun reformasi. Haruskah kita
pesimis dengan keadaan negeri ini? Tidak. Yakinlah cahaya itu selalu ada.
Semoga Indonesia Emas versi Om Ari Ginanjar segera terwujud pada waktunya
nanti. Aku selalu yakin kita bisa, Indonesia akan bangkit. Yang terpenting, jangan
hanya mengutuki
kegelapan, tetapi segera nyalakan lilin.