Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 24 Mei 2013

Mei dan Reformasi



Mei. Bagiku selalu ada kesan, kenangan dan sejarah penting di bulan ini. Mei 2013 akan segera berlalu dengan torehan sejarahnya sendiri. Mei tahun ini memuat sejarah berarti untuk bangsa ini. 15 tahun reformasi. 

Lima belas tahun. Selama itulah aku menatap Indonesia dengan getaran yang berbeda. Umurku masih 12 tahun ketika angin reformasi berhembus. Mei 1998. Saat itu aku sedang bersiap menghadapi EBTANAS, menikmati hari-hari terakhir mengenakan seragam putih merah. Aku memang tidak berhadapan langsung dengan peristiwa itu, hanya menyaksikan melalui layar televisi hitam putih, tetapi ruh pergolakan itu terasa merasuki jiwa ragaku yang masih bocah. Saat itu aku hanya bisa bertanya-tanya, mengapa semua itu terjadi. Mengapa kakak-kakak mahasiswa itu berdemo, ramai-ramai turun ke jalan? Aku hanya bisa tercengang melihat mereka menyemut memenuhi gedung MPR? Mengapa harus ada yang meninggal? Apa yang sesungguhnya mereka perjuangkan? Aku ternganga menonton televisi yang menayangkan aksi bakar-bakar dan aneka kekerasan lainnya.

 Saat itu aku masih bocah, tidak banyak yang bisa kucerna. Memang sempat terlontar juga pertanyaan kritis karena kenyamanan masa kecilku yang terusik. Mengapa presiden Soeharto dihujat dan dituntut mengundurkan diri? Apa maksud semua itu. Dari ketidakmengertianku, aku sangat setuju dengan sebuah puisi anak-anak yang dimuat dimajalah Bobo. Ada sebuah larik yang menyentuh hatiku “Reformasi yang kau hembuskan hanya membuat rumahku menjadi abu tertiup angin”.

Seiring berjalan waktu aku mulai sedikit mengerti. Aku mengetahui semuanya dari televisi. Mengikuti semua berita politik di TV bahkan selalu bersemangat menonton acara debat mahasiswa. Persepsiku terhadap kakak-kakak mahasiswa itu perlahan berubah. Lihatlah hebat sekali mereka. Pola pikirnya luar biasa. Aku berharap suatu hari bisa sehebat mereka (tapi ternyata tidak). Dan diantara semua itu, yang paling mengesankan untuk mengenang episode reformasi itu tentu saja puisi Taufik Ismail yang berjudul Ketika Burung Merpati Sore Melayang. Itu salah satu puisi favoritku.

 KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG  
By Taufiq Ismail (1998)

Langit akhlak telah roboh di atas negeri 
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri 
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini 
Negeriku sesak adegan tipu-menipu 
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku 
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku 
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku 
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku 
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku 

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan 
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan 
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan 
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan 
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan 

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan 
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan 
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan 
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian 
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan 

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api 
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti 
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri 
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini 
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api 
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi 
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri 

Kukenangkan tahun ‘47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga 
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi 
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri 
Seluruh korban empat tahun revolusi 
Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh kalah ngeri 
Aku termangu mengenang ini 
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri 

Ada burung merpati sore melayang 
Adakah desingnya kau dengar sekarang 
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan 
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan 
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah 
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku 
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu? 

Ada burung merpati sore melayang 
Adakah desingnya kau dengar sekarang

Begitulah, Aku melewati masa kanak-kanak dengan sebuah kalimat dari sebuah acara anak-anak di TVRI Wahai Pemimpin bangsaku, biarkan kami anak-anak negeri bermimpi. Kalian serukan kami untuk belajar, tetapi huru hara yang terjadi membuat kami tidak konsentrasi”.

Reformasi, sampai hari ini pun sejujurnya aku tidak sepenuhnya mengerti. Lima belas tahun reformasi, bagaimanakah wajah Indonesia kita saat ini? Bagaimana perkembangannya selama lima belas tahun ini? Tidak sedikit diantara kita yang memaki carut marutnya keadaan, menghujat pemimpin, mengutuki negeri yang sedang sakit. Lima belas tahun reformasi, akankah selamanya kita memaki, menghujat, mengutuk, dan lain-lain sumpah serapah? Miris hati menyaksikan kejahatan dan kekerasan tumbuh subur di negeri tercinta ini. Harus diakui negeri kita memang sedang dilanda krisis. Dari krisis ekonomi, krisis kejujuran, krisis keadilan hingga krisis moralitas. Korupsi seperti benalu yang terus membelit, begitu sulit kita melepaskan diri dari lilitannya. Sedangkan keadilan sungguh tidak lagi memiliki tempat di sini. 

Lima belas tahun reformasi. Haruskah kita pesimis dengan keadaan negeri ini? Tidak. Yakinlah cahaya itu selalu ada. Semoga Indonesia Emas versi Om Ari Ginanjar segera terwujud pada waktunya nanti. Aku selalu yakin kita bisa, Indonesia akan bangkit. Yang terpenting, jangan hanya mengutuki kegelapan, tetapi segera nyalakan lilin.


Kamis, 02 Mei 2013

Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia TengahGaris Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah by Agustinus Wibowo
My rating: 5 of 5 stars

Memoar perjalanan yang sangat mengesankan. Diramu dengan gaya bahasa yang sangat menarik. Mengajak imajinasi kita menyusuri negeri-negeri Stan, sampai ke tempat terpencil di dunia. Banyak pengetahuan baru yang kita peroleh. Hal-hal yang menakjubkan, yang tidak pernah diketahui selama ini. Agustinus Wibowo membukakan cakrawala baru. lihatlah negeri-negeri di Tepian Amu Darya. Berkacalah pada mereka.

Buku ini bukan saja berupa catatan perjalanan biasa. Ada perenungan di dalamnya. Bahwa garis batas bukan hanya sekedar garis perbatasan negara, bukan juga sebatas garis di peta. Tetapi garis batas itu meliputi semua sisi kehidupan. Budaya, bangsa, bahasa, agama, suku, pendidikan, bahkan hidup itu sendiri. Kita diajak merenung, bukan digurui. Agus juga menceritakan sebagian sisi hidupnya di lintasan garis batas.

Buku ini sejatinya juga mengajak kita lebih mencintai Indonesia. Bersyukur hidup di negeri Indonesia. Menerima garis batas keindonesian kita, sambil menyimak dunia di luar garis batas kita. Mungkin pemuda di Uzbekistas atau Kazakstan tidak tahu ada negeri bernama Indonesia, tetapi itu wajar bukan? Karena orang-orang kita pun belum tentu semuanya tahu ada negeri bernama kazakstan, uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Turkmenistan?

Beikut adalah quote favorite saya di buku ini. "Ditanah asing ini, saya kembali merenung arti Indonesia. Indonesia memang tidak sempurna, tetapi itulah tanah air yang menerima saya apa adanya. Indonesia memang menorehkan kenangan buruk, tetapi tetaplah rumah dengan nostalgia. Indonesia adalah diri saya. Otak saya bekerja dalam bahasa Indonesia, budaya saya adalah budaya Indonesia. Loyalitas saya pada kain merah dan putih. Bagaimana saya bisa menyangkal keindonesiaan yang begitu kuat dalam diri saya?"


View all my reviews