My rating: 5 of 5 stars
Memoar perjalanan yang sangat mengesankan. Diramu dengan gaya bahasa yang sangat menarik. Mengajak imajinasi kita menyusuri negeri-negeri Stan, sampai ke tempat terpencil di dunia. Banyak pengetahuan baru yang kita peroleh. Hal-hal yang menakjubkan, yang tidak pernah diketahui selama ini. Agustinus Wibowo membukakan cakrawala baru. lihatlah negeri-negeri di Tepian Amu Darya. Berkacalah pada mereka.
Buku ini bukan saja berupa catatan perjalanan biasa. Ada perenungan di dalamnya. Bahwa garis batas bukan hanya sekedar garis perbatasan negara, bukan juga sebatas garis di peta. Tetapi garis batas itu meliputi semua sisi kehidupan. Budaya, bangsa, bahasa, agama, suku, pendidikan, bahkan hidup itu sendiri. Kita diajak merenung, bukan digurui. Agus juga menceritakan sebagian sisi hidupnya di lintasan garis batas.
Buku ini sejatinya juga mengajak kita lebih mencintai Indonesia. Bersyukur hidup di negeri Indonesia. Menerima garis batas keindonesian kita, sambil menyimak dunia di luar garis batas kita. Mungkin pemuda di Uzbekistas atau Kazakstan tidak tahu ada negeri bernama Indonesia, tetapi itu wajar bukan? Karena orang-orang kita pun belum tentu semuanya tahu ada negeri bernama kazakstan, uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Turkmenistan?
Beikut adalah quote favorite saya di buku ini. "Ditanah asing ini, saya kembali merenung arti Indonesia. Indonesia memang tidak sempurna, tetapi itulah tanah air yang menerima saya apa adanya. Indonesia memang menorehkan kenangan buruk, tetapi tetaplah rumah dengan nostalgia. Indonesia adalah diri saya. Otak saya bekerja dalam bahasa Indonesia, budaya saya adalah budaya Indonesia. Loyalitas saya pada kain merah dan putih. Bagaimana saya bisa menyangkal keindonesiaan yang begitu kuat dalam diri saya?"
View all my reviews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar