2014
sudah menapaki Desember. Selalu tersentak ketika tiba di Desember. Hah? Sudah
Desember lagi? Dan Pertanyaan paling menohok di bulan Desember adalah, apakah
pencapaian terbaikmu tahun ini? Atau apakah tahun ini lebih baik dari tahun
sebelumnya? Pertanyaan yang menggiring ingatan pada coretan-coretan harapan di
buku harian ketika awal Januari. Apakah harapan selaras kenyataan? Apakah mimpi
diikuti oleh aksi? Ataukah ia hanya sekedar coretan di atas kertas yang setiap
akhir tahun dibaca ulang dengan penuh helaan napas panjang?
Kuakui
tidak ada pencapaian terbaik tahun ini. Aku justru merasakan kemunduran.
Tenggelam dalam pekerjaan yang juga nyaris menenggelamkan semua impian. Dengan
kondisi seperti ini, aku tidak berani menuliskan apapun lagi dalam resolusi
tahun baru. Lima belas tahun mengulang
kalimat yang sama, mulai merasa jenuh. Tidak ada daya pengungkit yang jitu
untuk membangkitkan semangat dan tekadku.
Lalu,
aku harus bagaimana? Teruslah bermimpi. Seperti kata Arai dalam Laskar Pelangi
“Bermimpilah. Karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”