Buku :
Meraba Indonesia. Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Penulis :
Ahmad Yunus
Penerbit :
Serambi
Tahun :
2011
Tebal :
370 Halaman
Saya
menuntaskan membaca buku ini di hari terakhir long weekend yang tadinya terasa membosankan. Hari pertama saya
habiskan di rumah dengan leyeh-leyeh, malas-malasan, tidur-tiduran. Hari kedua
menghadiri undangan sampai sore. Baru pada malam harinya saya melirik kembali
buku Meraba Indonesia yang sudah saya baca seperempatnya. Buku ini menyandera saya membaca hingga
larut. Selesai saya baca keesokan paginya.
Di Minggu pagi yang bening, seusai mengikuti ‘perjalanan keliling Indonesia’, pikiran saya
benar-benar fresh untuk merenungkan Indonesia. Mendadak saya mempertanyakan
kembali nasionalisme saya. Bagaimana dan sejauh mana saya mencintai Indonesia?
Ahmad
Yunus dan Farid Goban telah menuntaskan ekspedisi keliling Indonesia selama
satu tahun. Mereka menyisir pulau-pulau wilayah terluar Republik. Memulai
perjalanan dari Jakarta menuju Sumatera. Kemudian menelusuri pulau-pulau dari
Pahawang, Enggano, Mentawai, Nias, Simeulue, Pulau Weh. Lalu menyusuri selat
Malaka menuju Batam, mampir di pulau Penyengat, Midai, Natuna, akhirnya tiba di
Kalimantan. Dari Pontianak, menuju Sampit, Banjarmasin, Palangkaraya,
Samarinda, lalu mereka kembali mengarungi laut menuju pulau Derawan, Kakaban,
dan ke perbatasan Indonesia Malaysia di Nunukan dan Sebatik.
Ekspedisi
mereka berlanjut ke Sulawesi. Melihat pembuatan Pinisi di Bira, Bulukumba.
Lanjut ke pulau Takabonerate, Buton, Pulau Toga dan tak lupa ke Miangas yang
terletak di ujung paling utara. Mereka tiba di Ternate, Maluku Utara. Kemudian
naik kapal laut menuju Sorong. Mengelilingi Raja Ampat, lalu menyeberang ke
Kepulauan Banda. Banda Neira yang bersejarah. Pala dan cengkehnya memikat
penjajah. Dari Banda mereka bergerak ke Merauke, daerah paling timur Republik.
Tujuan
terakhir ekspedisi mereka adalah Flores. ke Ende dan Maumere. Karena tidak ada
transportasi laut, mereka melakukan perjalanan udara dari Merauke ke Flores.
Dari Flores mereka menggeber motor, bergerak pulang ke Jawa.
Buku
ini menghamparkan Indonesia ke dalam ruang imaji pembaca. Indonesia yang apa
adanya. Kesenjangan sosial dan ekonomi di banyak tempat. Keadilan yang sama
sekali tidak merata. Bagaimana masyarakat di pulau-pulau terluar bertahan hidup
tanpa banyak mendapatkan perhatian dan kepedulian dari penguasa negeri.
Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut.
Tapi sayangnya wajah transportasi laut kita jauh dari layak. Akses transportasi
antar pulau-pulau kecil juga tidak memadai. Indonesia memiliki banyak gugusan
pulau yang mempesona dengan lautnya yang kaya. Tetapi karena tidak dikelola
dengan baik, kekayaan itu belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Sejauh ini Indonesia yang saya
jejaki barulah sebagian Aceh dan secuil
Sumatera Utara. Juni 2013 saya berkesempatan menyusuri pantai Barat Selatan
Aceh. Melewati perbatasan Aceh Sumut di Subulussalam. Melalui Tapanuli Tengah,
Brastagi, dan tiba di Kota Medan. Lalu pulang ke Banda Aceh menyusuri pantai
Timur utara Aceh. Pulau yang saya jejaki baru pulau Weh, tempat kilometer nol
Indonesia berada. Hanya sebatas itu wilayah Indonesia yang baru saya kelilingi.
Bahkan saya belum pernah ke Jakarta, ibukota Republik. Meskipun begitu saya
tidak mencintai Indonesia sepotong-sepotong. Saya mencintai Indonesia secara
utuh dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga ke Rote.
Buku ini mengajak saya
untuk mengenali Indonesia lebih dekat,
lebih rekat. Untuk kemudian mencintainya dengan lebih erat. Dan yang pasti saya
harus lebih sering membuka peta Indonesia. Bukan sekedar mengagumi bnetuknya
yang cantik, tapi juga mengenali wilayahnya secara spesifik.
Buku ini tidak saja
menceritakan kisah-kisah selama perjalanan, tapi juga diperkaya dengan
ulasan-ulasan sejarah masa silam. Saya berharap nasionalisme yang melekat dalam
diri saya bukanlah nasionalisme khayalan, yang bisa saja kabur dan menghilang.
Semoga suatu hari nanti saya bisa merasakan wajah Indonesia yang lain, menjejakkan
kaki hingga ke sudut-sudut negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar