Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 24 April 2015

Buku Meraba Indonesia



Buku               : Meraba Indonesia. Ekspedisi Gila Keliling Nusantara
Penulis            : Ahmad Yunus
Penerbit          : Serambi
Tahun             : 2011
Tebal               : 370 Halaman

11990399            Saya menuntaskan membaca buku ini di hari terakhir long weekend yang tadinya terasa membosankan. Hari pertama saya habiskan di rumah dengan leyeh-leyeh, malas-malasan, tidur-tiduran. Hari kedua menghadiri undangan sampai sore. Baru pada malam harinya saya melirik kembali buku Meraba Indonesia yang sudah saya baca seperempatnya.  Buku ini menyandera saya membaca hingga larut. Selesai saya baca keesokan paginya.  Di Minggu pagi yang bening, seusai mengikuti  ‘perjalanan keliling Indonesia’, pikiran saya benar-benar fresh untuk merenungkan Indonesia. Mendadak saya mempertanyakan kembali nasionalisme saya. Bagaimana dan sejauh mana saya mencintai Indonesia?
            Ahmad Yunus dan Farid Goban telah menuntaskan ekspedisi keliling Indonesia selama satu tahun. Mereka menyisir pulau-pulau wilayah terluar Republik. Memulai perjalanan dari Jakarta menuju Sumatera. Kemudian menelusuri pulau-pulau dari Pahawang, Enggano, Mentawai, Nias, Simeulue, Pulau Weh. Lalu menyusuri selat Malaka menuju Batam, mampir di pulau Penyengat, Midai, Natuna, akhirnya tiba di Kalimantan. Dari Pontianak, menuju Sampit, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, lalu mereka kembali mengarungi laut menuju pulau Derawan, Kakaban, dan ke perbatasan Indonesia Malaysia di Nunukan dan Sebatik.
            Ekspedisi mereka berlanjut ke Sulawesi. Melihat pembuatan Pinisi di Bira, Bulukumba. Lanjut ke pulau Takabonerate, Buton, Pulau Toga dan tak lupa ke Miangas yang terletak di ujung paling utara. Mereka tiba di Ternate, Maluku Utara. Kemudian naik kapal laut menuju Sorong. Mengelilingi Raja Ampat, lalu menyeberang ke Kepulauan Banda. Banda Neira yang bersejarah. Pala dan cengkehnya memikat penjajah. Dari Banda mereka bergerak ke Merauke, daerah paling timur Republik.
            Tujuan terakhir ekspedisi mereka adalah Flores. ke Ende dan Maumere. Karena tidak ada transportasi laut, mereka melakukan perjalanan udara dari Merauke ke Flores. Dari Flores mereka menggeber motor, bergerak pulang ke Jawa.
            Buku ini menghamparkan Indonesia ke dalam ruang imaji pembaca. Indonesia yang apa adanya. Kesenjangan sosial dan ekonomi di banyak tempat. Keadilan yang sama sekali tidak merata. Bagaimana masyarakat di pulau-pulau terluar bertahan hidup tanpa banyak mendapatkan perhatian dan kepedulian dari penguasa negeri. Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari laut. Tapi sayangnya wajah transportasi laut kita jauh dari layak. Akses transportasi antar pulau-pulau kecil juga tidak memadai. Indonesia memiliki banyak gugusan pulau yang mempesona dengan lautnya yang kaya. Tetapi karena tidak dikelola dengan baik, kekayaan itu belum bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Sejauh ini Indonesia yang saya jejaki  barulah sebagian Aceh dan secuil Sumatera Utara. Juni 2013 saya berkesempatan menyusuri pantai Barat Selatan Aceh. Melewati perbatasan Aceh Sumut di Subulussalam. Melalui Tapanuli Tengah, Brastagi, dan tiba di Kota Medan. Lalu pulang ke Banda Aceh menyusuri pantai Timur utara Aceh. Pulau yang saya jejaki baru pulau Weh, tempat kilometer nol Indonesia berada. Hanya sebatas itu wilayah Indonesia yang baru saya kelilingi. Bahkan saya belum pernah ke Jakarta, ibukota Republik. Meskipun begitu saya tidak mencintai Indonesia sepotong-sepotong. Saya mencintai Indonesia secara utuh dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga ke Rote.
Buku ini mengajak saya untuk  mengenali Indonesia lebih dekat, lebih rekat. Untuk kemudian mencintainya dengan lebih erat. Dan yang pasti saya harus lebih sering membuka peta Indonesia. Bukan sekedar mengagumi bnetuknya yang cantik, tapi juga mengenali wilayahnya secara spesifik.
Buku ini tidak saja menceritakan kisah-kisah selama perjalanan, tapi juga diperkaya dengan ulasan-ulasan sejarah masa silam. Saya berharap nasionalisme yang melekat dalam diri saya bukanlah nasionalisme khayalan, yang bisa saja kabur dan menghilang. Semoga suatu hari nanti saya bisa merasakan wajah Indonesia yang lain, menjejakkan kaki hingga ke sudut-sudut negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar