Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 09 Desember 2012

Untuk sahabat



Untuk sahabatku tersayang, Cut Ita
Sepenuh cinta untukmu, sahabat. Apa kabarmu di sana? Maafkanku mengusik ketenanganmu. Aku ingin kamu tahu, di sini aku selalu merindukanmu. Kenangan kita terus membayangi hidupku. Tak sehari pun aku hidup tanpa mengingatmu. Kamu juga masih sering hadir dalam mimpi-mimpiku. Izinkan aku jujur mencurahkan isi hatiku tentangmu, tentang persahabatan kita. Hal yang tak pernah kau dengar seumur hidupmu.

Beragam kisah telah kita torehkan. Menggumpal-ngumpal dalam baluran kenangan.  Ada ceria, mendominasi. Di saat lain duka mengambil alih kondisi. Ada saatnya kita tersenyum, tertawa lepas. Di saat lain air mata menetes, tangis pilu tumpah. Persahabatan kita hanya berusia enam belas tahun. Empat  tahun lalu engkau pergi, aku tak berdaya mencegah. Duka teramat dalam menggores hati. Sampai hari ini aku masih berharap  kamu akan kembali, tapi itu mustahil terjadi.  Jauh panggang dari api.

Cut Ita sahabatku sayang, kamu adalah sahabat terbaik dalam hidupku. Memang sejujurnya kuakui aku juga mengatakan hal yang sama pada beberapa sahabat dekatku. Namun sejatinya, kamulah sahabat terbaikku.

Selama enam belas tahun persahabatan kita, tak kupungkiri aku sering menorehkan luka. Kau pernah kecewa padaku, aku pernah bersikap tidak adil padamu, mengabaikanmu. Bahkan aku pernah mempertanyakan kesejatian persahabatan kita. Setelah kau pergi barulah kusadari engkaulah sahabat sejatiku, sahabat terbaik dalam hidupku. Memang, kita baru merasakan kehilangan seseorang atau sesuatu setelah dia pergi.
Dalam beberapa tahun terakhir kita jarang bersama. Menginjak bangku SMA persahabatan kita sempat renggang. Kau lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temanmu dan aku melewatkan hari bersama teman-temanku. Aku sedih merasa kehilanganmu. Saat itulah hatiku bertanya, benarkah kamu sahabat sejati?

Kau menjawab keraguanku pada hari ulang tahunmu yang ke 17. Kau mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa orang teman dekat. Aku salah satu tamu yang wajib datang, katamu. Tapi aku enggan untuk datang, takut tersisih diantara teman-temanmu. Karena itu kuputuskan datang telat, hampir satu jam dari jadwal di undanganmu. Apa yang kulihat? Acara belum mulai, sementara semua orang telah berkumpul. “aku tidak akan memulai acara tanpamu,”ujarmu tulus. Aku terharu dan merasa bersalah. Bagaimana aku bisa berpikir kau akan menyisihkanku? Begitulah kau selalu berpikir positif tentangku, sementara aku terkadang berpikir sebaliknya tentangmu.

Kau seperti buku yang terbuka. Membiarkan aku membaca hatimu. Tak ada yang kau sembunyikan dariku. Itu katamu dan aku percaya. Aku bahkan mengenalmu lebih dari mengenal diri sendiri. Suatu hari kau pernah mengeluh mengenai sifatku yang tertutup. Aku sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah mengumbar masalah pribadiku padamu atau pada siapapun. Hanya yang kupikir pantas untuk kau dengar saja yang kuceritakan. Kau sangat keberatan dengan ketertutupanku, tapi tokh persahabatan kita terus berlanjut dan tidak terganggu karenanya.

Dua tahun sebelum kau pergi, dalam kado ulang tahun untukku yang ke duapuluh, kau selipkan berlembar-lembar surat curahan hatimu. Sebuah kalimat yang selalu ku ingat ‘Aku bukan lagi Cut Itamu yang dulu’. Suratmu yang panjang itu menceritakan kesedihan yang kau jalani, kisah hidup yang tidak kau ingini.

Maafkan aku, kawan. Mungkin aku bukan sahabat yang baik untukmu. Aku tidak ada saat kamu dirundung duka. Aku tidak ada saat kamu butuh bahu untuk bersandar. Aku tidak ada saat kau butuh teman curhat kala hatimu gundah. Bertahun-tahun aku bertanya benarkah kamu sahabat sejatiku, sementara aku lupa menanyakan pada diri sendiri benarkah aku sahabat sejatimu? Kau dengan terbuka selalu mengatakan dalam surat-suratmu maupun dalam ucapan sambil lalu bahwa akulah sahabat terbaikmu. Sedangkan aku selalu ragu mengakui bahwa kamulah sahabat terbaikku. Masih diperlukankah pengakuan itu?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar