Untuk sahabatku tersayang, Cut Ita
Sepenuh cinta untukmu, sahabat. Apa
kabarmu di sana? Maafkanku mengusik ketenanganmu. Aku ingin kamu tahu, di sini
aku selalu merindukanmu. Kenangan kita terus membayangi hidupku. Tak sehari pun
aku hidup tanpa mengingatmu. Kamu juga
masih sering hadir dalam mimpi-mimpiku. Izinkan
aku jujur mencurahkan isi hatiku tentangmu, tentang persahabatan kita. Hal yang
tak pernah kau dengar seumur hidupmu.
Beragam kisah telah kita torehkan.
Menggumpal-ngumpal dalam baluran kenangan. Ada ceria, mendominasi. Di saat lain duka
mengambil alih kondisi. Ada saatnya kita tersenyum, tertawa lepas. Di saat lain
air mata menetes, tangis pilu tumpah. Persahabatan kita hanya berusia enam
belas tahun. Empat tahun lalu engkau pergi, aku tak berdaya
mencegah. Duka teramat dalam menggores hati. Sampai hari ini aku masih
berharap kamu akan kembali, tapi itu
mustahil terjadi. Jauh panggang dari
api.
Cut Ita sahabatku sayang, kamu
adalah sahabat terbaik dalam hidupku. Memang sejujurnya kuakui aku juga
mengatakan hal yang sama pada beberapa sahabat dekatku. Namun sejatinya,
kamulah sahabat terbaikku.
Selama enam belas tahun
persahabatan kita, tak kupungkiri aku sering menorehkan luka. Kau pernah kecewa
padaku, aku pernah bersikap tidak adil padamu, mengabaikanmu. Bahkan aku pernah
mempertanyakan kesejatian persahabatan kita. Setelah kau pergi barulah kusadari
engkaulah sahabat sejatiku, sahabat terbaik dalam hidupku. Memang, kita baru
merasakan kehilangan seseorang atau sesuatu setelah dia pergi.
Dalam beberapa tahun terakhir kita
jarang bersama. Menginjak bangku SMA persahabatan kita sempat renggang. Kau
lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temanmu dan aku melewatkan hari
bersama teman-temanku. Aku sedih merasa kehilanganmu. Saat itulah hatiku
bertanya, benarkah kamu sahabat sejati?
Kau menjawab keraguanku pada hari
ulang tahunmu yang ke 17. Kau mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa
orang teman dekat. Aku salah satu tamu yang wajib datang, katamu. Tapi aku
enggan untuk datang, takut tersisih diantara teman-temanmu. Karena itu
kuputuskan datang telat, hampir satu jam dari jadwal di undanganmu. Apa yang
kulihat? Acara belum mulai, sementara semua orang telah berkumpul. “aku tidak
akan memulai acara tanpamu,”ujarmu tulus. Aku terharu dan merasa bersalah.
Bagaimana aku bisa berpikir kau akan menyisihkanku? Begitulah kau selalu
berpikir positif tentangku, sementara aku terkadang berpikir sebaliknya
tentangmu.
Kau seperti buku yang terbuka.
Membiarkan aku membaca hatimu. Tak ada yang kau sembunyikan dariku. Itu katamu
dan aku percaya. Aku bahkan mengenalmu lebih dari mengenal diri sendiri. Suatu
hari kau pernah mengeluh mengenai sifatku yang tertutup. Aku sangat jarang
bahkan nyaris tidak pernah mengumbar masalah pribadiku padamu atau pada
siapapun. Hanya yang kupikir pantas untuk kau dengar saja yang kuceritakan. Kau
sangat keberatan dengan ketertutupanku, tapi tokh persahabatan kita terus
berlanjut dan tidak terganggu karenanya.
Dua tahun sebelum kau pergi, dalam
kado ulang tahun untukku yang ke duapuluh, kau selipkan berlembar-lembar surat
curahan hatimu. Sebuah kalimat yang selalu ku ingat ‘Aku bukan lagi Cut Itamu
yang dulu’. Suratmu yang panjang itu menceritakan kesedihan yang kau jalani,
kisah hidup yang tidak kau ingini.
Maafkan aku, kawan. Mungkin aku
bukan sahabat yang baik untukmu. Aku tidak ada saat kamu dirundung duka. Aku tidak
ada saat kamu butuh bahu untuk bersandar. Aku tidak ada saat kau butuh teman
curhat kala hatimu gundah. Bertahun-tahun aku bertanya benarkah kamu sahabat
sejatiku, sementara aku lupa menanyakan pada diri sendiri benarkah aku sahabat
sejatimu? Kau dengan terbuka selalu mengatakan dalam surat-suratmu maupun dalam
ucapan sambil lalu bahwa akulah sahabat terbaikmu. Sedangkan aku selalu ragu
mengakui bahwa kamulah sahabat terbaikku. Masih diperlukankah pengakuan itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar