Assalamu’alaikum..
Saya
awali surat ini dengan seuntai harapan, semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat
lahir batin sehingga dapat senantiasa mengemban amanah negara, memberikan
kontribusi terbaik
kepada masyarakat Indonesia.
Nama Dahlan
Iskan sekarang begitu tenar, fenomenal dan juga kontroversial. Bapak seperti selebritas panggung politik Indonesia. Bapak merupakan figur langka ditengah
carut marutnya tokoh nasional kita. Sosok Bapak sangat inspiratif, tetapi di
sisi lain juga mengundang kontroversi. Namun saya percaya Bapak tulus. Apa yang
telah Bapak lakukan
selama ini sekontroversial apapun, merupakan dedikasi untuk negeri. Semata-mata
dorongan dari nurani, bukan pencitraan apalagi untuk mendongkrak popularitas
seperti yang digembor-gemborkan sebagian kalangan.
Saya
percaya pada Bapak. Karena itu saya ingin berbagi cerita, tentang beberapa
impian saya. Sudikah bapak membacanya? Seperti bapak, seperti semua orang, saya
juga punya impian. Impian yang saya semai sejak kecil, saya pupuk, semakin
subur dari hari ke hari. Dan kini pohon impian itu menjulang tinggi. Masalahnya
pak, saya hanya berani bermimpi dan tidak punya keberanian untuk mewujudkannya. Mimpi saya yang menjulang
tinggi itu masih bertahan berada di awang-awang. Belum menginjak bumi. Apalagi
berwujud nyata.
Seumur
hidup saya yang sudah menginjak usia 26 tahun sekarang, begitu banyak impian
yang bertaburan. Diantara
sekian banyak impian saya, dua yang masih bertahan hingga sekarang mengikuti
kemana pun saya pergi. Pernah membuat saya begitu bersemangat. Ironisnya juga
pernah membuat saya terpuruk dalam keputusasaan, terperosok dalam jurang pesimis
penuh kekecewaan. Mengapa begitu sulit menyetir hidup kita sendiri?
Impian
pertama saya adalah menjadi penulis, menulis dan
menerbitkan buku
yang dibaca banyak orang. Ini adalah impian saya sejak kecil. Berawal dari
kegemaran membaca majalah anak-anak . Saya
menyukai cerita di sana dan mencoba menulis sendiri. Hanya segelintir
orang terdekat yang mengetahui kegemaran saya menulis. Dari segelintir orang
itu, hanya dua orang yang pernah membaca tulisan saya, yaitu kakak dan sahabat
dekat sejak SD. Keduanya memberi komentar positif yang mendukung semangat saya
menulis. Tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa menjadi penulis merupakan impian
yang telah mengkristal dalam benak saya.
Dalam
diam saya terus menulis. Bisa dibilang dari kelas lima SD hingga SMA adalah
masa-masa produktif saya menulis. Banyak cerpen dan puisi yang tercipta, yang
sayangnya berakhir dalam sebuah kardus di kolong tempat tidur. Ketika saya membaca tulisan-tulisan penulis yang
sudah punya nama, hati ini terasa kecut dan ciut. Rasa minder
menggerogoti semua rasa percaya diri yang memang cuma secuil kumiliki. Tulisan saya tidak sebagus mereka, sangat tidak sebanding.
Kualitas saya jauh di bawah.
Menginjak
bangku kuliah hasrat menjadi penulis kian
menggebu. Saya sempat bergabung dengan dengan sebuah organisasi kepenulisan.
Tapi langkah saya
mentok. Virus malas selalu menyerang. Membuatku patah semangat duluan. Hingga
lulus kuliah, saya masih pulas dibalik selimut mimpi menjadi penulis.
Diulang
tahun yang ke 25, perlahan saya terjaga. Bangun dari tidur panjang,
terkaget-kaget melihat kenyataan. Usia sudah seperempat abad, tetapi saya masih
bukan siapa-siapa. Tidak ada karya nyata, hanya mimpi yang kian erat tergenggam. Sebuah kesadaran baru terbit di hati. Tanpa perjuangan dan kerja keras mimpi
selamanya akan menjadi impian. Saya harus bangkit.
Maka
saya kembali menulis. Meski dalam perjalanannya tidak semudah yang saya
tekadkan. Selalu ada rintangan. Parahnya rintangan terbesar justru datang dari
dalam diri sendiri. Sangat susah mendisiplinkan diri sendiri, Pak. Saya mencoba mengikuti berbagai lomba
menulis. Hasilnya? Sepertinya perjuangan saya masih
akan panjang dan berliku. Saya harus terus semangat. Alhamdulillah, satu-satunya pencapaian
yang lumayan adalah ketika akhir tahun 2011 lalu saya ikut lomba menulis surat untuk ibu
yang diadakan oleh salah satu self
publishing. Surat saya menjadi salah satu yang terpilih. Saya menangis haru ketika memegang buku
yang di dalamnya tertulis nama saya,
tulisan saya ada di sana. Jalan menjadi
penulis mulai tersibak. Dengan semangat, ketekunan, dan kegigihan Insya Allah
jalan itu akan terbuka lebar. Satu impian akan menjadi kenyataan.
Selain menjadi
penulis saya masih memendam satu impian lagi, Pak. Yang ini benar-benar mimpi
yang terlalu tinggi buat saya. Kuliah gratis keluar negeri, alias memperoleh
beasiswa. Yang ini impian ganda,Pak. Kuliah keluar negeri adalah impian sejak
lama. Namun saya sangat tahu diri, keuangan saya sungguh tidak akan mencukupi.
Impian selanjutnya pun tercipta yaitu mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar
negeri. Bagaimana menurut Bapak? Apakah itu mungkin? Terlalu mulukkah impian
saya? Saya sempat pesimis, Pak. Kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat
kurang. Beberapa bulan lalu saya pernah mendaftar beasiswa ke luar negeri dari
Pemerintah Aceh. Tapi saya gagal karena nilai TOEFL tidak mencukupi.
Walaubegitu saya tidak akan menyerah, Pak. Masa-masa gelap ketika saya begitu
putus asa dengan impian saya telah berakhir. “Jika semua yang kita kehendaki
terus kita miliki, darimana
kita
belajar ikhlas. Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar.
Jika setiap doa
kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar
ikhtiar.” Kata-kata Bapak itu telah melecut semangat saya
untuk tidak putus asa apalagi sampai menyerah.
Saya bertekad untuk belajar Bahasa Inggris dengan
lebih intensif. Saya sudah mengatur jadwal, waktu untuk menulis dan waktu untuk
serius belajar bahasa Inggris. Juga makin aktif searching beasiswa dari internet dan bergabung dengan beberapa
milis beasiswa . Buku ‘Sepatu Dahlan’ menginspirasi saya untuk percaya pada
kekuatan mimpi. Saya kagum pada kisah hidup Bapak, yang dengan
keuletan, kegigihan dan kesabaran mengantar Bapak menjadi seorang Dahlan
Iskan hari ini. Saya
meyakinkan diri, suatu saat saya akan sampai di Eropa, atau Amerika, atau
Australia. Tiga wilayah yang sering menjelma dalam mimpi saya. Dan di sana saya
akan menulis buku-buku saya, menulis hidup saya, menulis Indonesia kita.
Demikian, Pak, sekelumit impian saya. Figur Bapak ikut mendongkrak
semangat saya. Keberhasilan Bapak mewujudkan mimpi memacu saya untuk terus
berjuang. Impian memang harus diperjuangkan. Karena seperti kata Bapak “orang hebat tidak dihasilkan melalui
kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan,
mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan & air mata.” Saya percaya,
dengan kegigihan, kesabaran yang diiringi doa, insya Allah, semua cita-cita,
harapan dan impian akan menjadi kenyataan. Saya percaya, sangat percaya, dengan
izin Allah semuanya mungkin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar