Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 07 Desember 2012

Surat Untuk Dahlan Iskan

Tulisan ini awalnya hendak saya ikutkan dalam lomba 'Menulis Surat untuk Dahlan' yang diselenggarakan oleh Noura Books. Tetapi karena kesalahan teknis surat tersebut tidak terkirim ke panitia. saya mengirimnya di hari terakhir tanpa sempat cek and ricek lagi. Baru keesokan harinya saya melihat failure notice. Ya sudahlah..




Assalamu’alaikum..
          Saya awali surat ini dengan seuntai harapan, semoga Bapak selalu dalam keadaan sehat lahir batin sehingga dapat senantiasa mengemban amanah negara, memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat Indonesia.
          Nama Dahlan Iskan sekarang begitu tenar, fenomenal dan juga kontroversial. Bapak seperti selebritas panggung politik Indonesia. Bapak merupakan figur langka ditengah carut marutnya tokoh nasional kita. Sosok Bapak sangat inspiratif, tetapi di sisi lain juga mengundang kontroversi. Namun saya percaya Bapak tulus. Apa yang telah Bapak lakukan selama ini sekontroversial apapun, merupakan dedikasi untuk negeri. Semata-mata dorongan dari nurani, bukan pencitraan apalagi untuk mendongkrak popularitas seperti yang digembor-gemborkan sebagian kalangan.
          Saya percaya pada Bapak. Karena itu saya ingin berbagi cerita, tentang beberapa impian saya. Sudikah bapak membacanya? Seperti bapak, seperti semua orang, saya juga punya impian. Impian yang saya semai sejak kecil, saya pupuk, semakin subur dari hari ke hari. Dan kini pohon impian itu menjulang tinggi. Masalahnya pak, saya hanya berani bermimpi dan tidak punya keberanian untuk mewujudkannya. Mimpi saya yang menjulang tinggi itu masih bertahan berada di awang-awang. Belum menginjak bumi. Apalagi berwujud nyata.
          Seumur hidup saya yang sudah menginjak usia 26 tahun sekarang, begitu banyak impian yang bertaburan. Diantara sekian banyak impian saya, dua yang masih bertahan hingga sekarang mengikuti kemana pun saya pergi. Pernah membuat saya begitu bersemangat. Ironisnya juga pernah membuat saya terpuruk dalam keputusasaan, terperosok dalam jurang pesimis penuh kekecewaan. Mengapa begitu sulit menyetir hidup kita sendiri?
          Impian pertama saya adalah menjadi penulis, menulis dan menerbitkan buku yang dibaca banyak orang. Ini adalah impian saya sejak kecil. Berawal dari kegemaran membaca majalah anak-anak . Saya menyukai cerita di sana dan mencoba menulis sendiri. Hanya segelintir orang terdekat yang mengetahui kegemaran saya menulis. Dari segelintir orang itu, hanya dua orang yang pernah membaca tulisan saya, yaitu kakak dan sahabat dekat sejak SD. Keduanya memberi komentar positif yang mendukung semangat saya menulis. Tetapi mereka tidak pernah tahu bahwa menjadi penulis merupakan impian yang telah mengkristal dalam benak saya.
          Dalam diam saya terus menulis. Bisa dibilang dari kelas lima SD hingga SMA adalah masa-masa produktif saya menulis. Banyak cerpen dan puisi yang tercipta, yang sayangnya berakhir dalam sebuah kardus di kolong tempat tidur. Ketika saya membaca tulisan-tulisan penulis yang sudah punya nama, hati ini terasa kecut dan ciut. Rasa minder menggerogoti semua rasa percaya diri yang memang cuma secuil kumiliki. Tulisan saya  tidak sebagus mereka, sangat tidak sebanding. Kualitas saya jauh di bawah.
          Menginjak bangku kuliah hasrat menjadi penulis kian menggebu. Saya sempat bergabung dengan dengan sebuah organisasi kepenulisan. Tapi langkah saya mentok. Virus malas selalu menyerang. Membuatku patah semangat duluan. Hingga lulus kuliah, saya masih pulas dibalik selimut mimpi menjadi penulis.
          Diulang tahun yang ke 25, perlahan saya terjaga. Bangun dari tidur panjang, terkaget-kaget melihat kenyataan. Usia sudah seperempat abad, tetapi saya masih bukan siapa-siapa. Tidak ada karya nyata, hanya mimpi yang kian erat tergenggam. Sebuah kesadaran baru terbit di hati. Tanpa perjuangan dan kerja keras mimpi selamanya akan menjadi impian. Saya harus bangkit.
          Maka saya kembali menulis. Meski dalam perjalanannya tidak semudah yang saya tekadkan. Selalu ada rintangan. Parahnya rintangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri. Sangat susah mendisiplinkan diri sendiri, Pak.  Saya mencoba mengikuti berbagai lomba menulis. Hasilnya? Sepertinya perjuangan saya masih akan panjang dan berliku. Saya harus terus semangat. Alhamdulillah, satu-satunya pencapaian yang lumayan adalah ketika akhir tahun 2011 lalu saya ikut lomba menulis surat untuk ibu yang diadakan oleh salah satu self publishing. Surat saya menjadi salah satu yang terpilih. Saya menangis haru ketika memegang buku yang di dalamnya tertulis nama saya, tulisan saya ada di sana. Jalan menjadi penulis mulai tersibak. Dengan semangat, ketekunan, dan kegigihan Insya Allah jalan itu akan terbuka lebar. Satu impian akan menjadi kenyataan.
          Selain menjadi penulis saya masih memendam satu impian lagi, Pak. Yang ini benar-benar mimpi yang terlalu tinggi buat saya. Kuliah gratis keluar negeri, alias memperoleh beasiswa. Yang ini impian ganda,Pak. Kuliah keluar negeri adalah impian sejak lama. Namun saya sangat tahu diri, keuangan saya sungguh tidak akan mencukupi. Impian selanjutnya pun tercipta yaitu mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Bagaimana menurut Bapak? Apakah itu mungkin? Terlalu mulukkah impian saya? Saya sempat pesimis, Pak. Kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat kurang. Beberapa bulan lalu saya pernah mendaftar beasiswa ke luar negeri dari Pemerintah Aceh. Tapi saya gagal karena nilai TOEFL tidak mencukupi. Walaubegitu saya tidak akan menyerah, Pak. Masa-masa gelap ketika saya begitu putus asa dengan impian saya telah berakhir. “Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas. Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar. Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar.” Kata-kata Bapak itu telah melecut semangat saya untuk tidak putus asa apalagi sampai menyerah.
Saya bertekad untuk belajar Bahasa Inggris dengan lebih intensif. Saya sudah mengatur jadwal, waktu untuk menulis dan waktu untuk serius belajar bahasa Inggris. Juga makin aktif searching beasiswa dari internet dan bergabung dengan beberapa milis beasiswa . Buku ‘Sepatu Dahlan’ menginspirasi saya untuk percaya pada kekuatan mimpi. Saya kagum pada kisah hidup Bapak, yang dengan keuletan, kegigihan dan kesabaran mengantar Bapak menjadi seorang Dahlan Iskan hari ini. Saya meyakinkan diri, suatu saat saya akan sampai di Eropa, atau Amerika, atau Australia. Tiga wilayah yang sering menjelma dalam mimpi saya. Dan di sana saya akan menulis buku-buku saya, menulis hidup saya, menulis Indonesia kita.
          Demikian, Pak, sekelumit impian saya. Figur Bapak ikut mendongkrak semangat saya. Keberhasilan Bapak mewujudkan mimpi memacu saya untuk terus berjuang. Impian memang harus diperjuangkan. Karena seperti kata Bapak “orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan, mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan & air mata.” Saya percaya, dengan kegigihan, kesabaran yang diiringi doa, insya Allah, semua cita-cita, harapan dan impian akan menjadi kenyataan. Saya percaya, sangat percaya, dengan izin Allah semuanya mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar