Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 29 Agustus 2013

Indonesia MengajarIndonesia Mengajar by Pengajar Muda
My rating: 4 of 5 stars

Pernahkah terbayangkan jika suatu ketika kita hidup di tempat yang asing, nun jauh di pelosok negeri, tanpa listrik, tiada sinyal telepon seluler, tanpa ‘kemewahan’ hidup yang selama ini dinikmati? Mereka para Pengajar Muda telah mendapatkan kesempatan itu. mereka mendapat kehormatan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi pendidik anak-anak bangsa di sudut-sudut negeri.

Kisah-kisah pengalaman mereka selama menjadi Pengajar Muda begitu menggugah, mengharukan, membuatmu meneteskan airmata, dan terkadang memancing senyum dan tawa. Aku baru saja menyelesaikan membaca kisah “Tentang 4,5 Jam’ (kisah seorang Pengajar Muda yang tinggal di tempat tidak ada listrik PLN, hanya genset yang menyala selama 4,5 jam dimalam hari), ketika listrik di rumahku padam. Dan aku hanya bisa mengela napas. Tidak merutuk, ngomel-ngomel dan ngedumel seperti biasanya. Bagaimana bisa aku mengeluh, sementara di banyak tempat di pelosok negeri sama sekali tidak ada aliran listrik? Betapa tidak bersyukurnya diri ini jika terus mengeluh, sementara nikmat ‘terang’ yang berlimpah di tempat kami, sama sekali belum dinikmati warga di pelosok negeri.

Kutipan favorit saya di buku ini adalah:
"Tidak selamanya kita akan menemukan matahari dalam kehidupan kita. Kadang ada kondisi dimana semuanya gelap. Seperti tak ada harapan. Karena itu kita harus menjadi manusia auksin. Di alam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa. Layaknya auksin yang membimbing tumbuhan ke arah datangnya cahaya tidak ada harapan harus mebuat kita berusaha lebih keras untuk menemukan harapan tersebut, menciptakan jalan mereka sendiri. Dengan demikian kita tetap akan tumbuh lebih tinggi dan lebih subur. Entah ada atau tidak ada matahari dalam hidup kita.
Kita tidak boleh menyerah mengejar cita-cita. Hanya karena tidak ada harapan atau terdengar mustahil. Kegelapan ada untuk membuat kita lebih berani dan lebih dewasa menemukan cahaya. Bahkan di langit yang gelap pun ada secercah cahaya yang disebut bintang. Beranikah kita mencari cahaya itu dalam kegelapan pekat tanpa menyerah?
(Bagus Arya Wirapati)



View all my reviews

Rabu, 21 Agustus 2013

'Always be in your heart'

Always Be In Your Heart (Pulang ke Hatimu)


Aku selalu menantimu dari matahari di timur, matahari di barat, hingga terbit lagi.
Aku telah melewati musim yang berganti berulang kali.
Tapi kau tak pernah hadir di sini.
Kini setelah sepuluh tahun kulewati, aku tak yakin lagi.
Bahkan pada hatiku sendiri      (Marsela)

Siapakah kita, ketika pada akhirnya sejarah telah bicara.
Bahkan, sungai bisa saja berubah muara.
Sekuat apapun aku bertahan, sepuluh tahun telah mengubah banyak hal.
Dan nyatanya, keadaan memang tak lagi sama. (Juanito)

                Kalimat-kalimat di atas (yang tertera di sampul belakang) merupakan salah satu daya tarik untuk membaca buku ini. Penasaran, aku pun membuka lembar demi lembar dan tidak bisa berhenti membacanya. Kisah dengan setting  Timor Leste ini menceritakan persahabatan Marsela dan Juanito yang bertetangga sejak kecil. Persahabatan yang kemudian menumbuhkan benih-benih cinta. Mereka telah menyusun rencana dan impian untuk masa depan. Tetapi, situasi politik yang bergejolak di tanah Lorosae membuat semua impian itu berantakan. Keduanya terpisahkan oleh keadaan. Marsela dan ayahnya mengungsi, meninggalkan tanah kelahirannya, dan juga Juanito yang berjanji menjemputnya.
                Sepuluh tahun di pengungsian. Sepuluh tahun penantian. Juanito tidak kunjung datang. Hingga ayahnya meninggal. Marsela kemudian tinggal berdua dengan Lon, anjing tua pemberian Juanito. Di sisi lain, ada Randu (pemuda yang dekat dengan ayahnya) yang  berusaha menemani dan melindunginya meskipun Marsela selalu menjaga jarak. Randu juga kemudian yang menemani Marsela pulang ke tanah kelahirannya. Dan di sana, ia melihat keadaan yang sangat jauh berubah, termasuk Juanito.
                Novel ini bukan saja menceritakan kisah cinta yang terpisahkan, tetapi juga mengajak kita membaca kembali sejarah, ketika Timor Timur akhirnya berpisah dari Indonesia.

             Di Tepi Sungai Gleno
Mencarimu, menuruni lembah di Ermera
dan berlari membelah kebun kopi
aku melawan arah angin
yang menampar-nampar sabana dan stepa
yang menguning
lalu, aku berdiri di sini, di tepi sungai Gleno
Menulis puisi tentang tanah kita
tentang mimpiku
tentang mimpimu
tentang kita
tentang
secangkir kopi Ermera
dan
rasa yang tersimpan



Judul           : Always be in Your Heart (Pulang ke Hatimu)
Pengarang : Shabrina WS
Penerbit     : Mizan Pustaka / Qanita Romance
Cetakan      : I, Februari 2013
Tebal           : 236 halaman

Kamis, 15 Agustus 2013

Puisi 15 Agustus



KABAR DARI HELSINSKI
Genderang perang berhenti ditabuh di ujung barat Sumatera
Regukan kasih mengalir dari Helsinski
Hitam di atas putih!
Hitam di atas putih!
Tak peduli dengan tinta emas atau perak
Ayat-ayat damai ditulis.
Di atas lempengan emas atau tembaga
Ayat-ayat damai dilukis.

Perang berakhir
Akhirkan jua permusuhan
Musnahkan dendam yang kukuh bersemayam
Campakkan ke Selat malaka segala kebencian
Biarkan keganasan menjadi penghuni Samudra Hindia.

Dari Helsinski terkabar asa.
Hitam diatas putih
Rangkul kembali cinta
Dekap damai selamanya.

Rapai ditabuh
Songsong berlabuh sang damai
Hitam diatas putih di Helsinski
Dihembus angin ke penjuru Nanggroe
Alunannya lembut memukau.

Banda Aceh, 15 Agustus 2005



DAMAI BERSELIMUT KABUT

Aku melihatnya dari balik awan
Dilingkupi kabut tipis
Samar bendera damai dipancangkan
Sayup lagu damai didendangkan
Aneka poster di pinggir jalan
Bersatu dalam slogan “Damai Abadi”

Masih dari balik awan berselimut kabut
Kusaksikan mereka berangkulan
Memupus kebencian, mengubur dendam
Seiring senjata yang dimusnahkan
Seiring tentara yang dipulangkan.

Kini setahun usia damai itu.
Kusingkap kabut berpijak pada kenyataan
Duhai bumi Iskandar Muda yang meringkuk dibuai damai
Jangan terlena, tanahku...
Tiada keabadian di alam fana
Waspadai percikan api yang bersiliweran di langitmu
Atau bom waktu yang tersembunyi di pijakan kakimu.

Banda Aceh, 15 Agustus 2006


SETAHUN DAMAI ACEHKU
Setahun damai berlabuh
Nanggroe Acehku mengusap peluh yang bertahun merengkuh
Gempita damai ditabuh
Di seluruh penjuru Nanggroe
Airmata kering, mengembang senyum
Luka hilang, sirna lara
Dendam dikubur ke liang paling dalam
Hitam masa lalu tertutup rapi
Menjadi sejarah berarti

Setahun damai diperingati
Rakyat penjuru negeri berbondong ke Banda
Mengusung asa
Memadati Mesjid Raya dengan doa
Harapan bertaburan di nanggroe damai
Dapat bersawah dan berladang dengan aman
Tanpa takut tembakan nyasar
Dapat bersekolah dengan tenang tanpa takut ancaman
Dapat berkantor tanpa cemas todongan
Dapat merajut mimpi akan hari cerah esok pagi.
Damai
                Selalu
                                Acehku
                                                Banda Aceh, 15 Agustus 2006