My rating: 4 of 5 stars
Pernahkah terbayangkan jika suatu ketika kita hidup di tempat yang asing, nun jauh di pelosok negeri, tanpa listrik, tiada sinyal telepon seluler, tanpa ‘kemewahan’ hidup yang selama ini dinikmati? Mereka para Pengajar Muda telah mendapatkan kesempatan itu. mereka mendapat kehormatan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi pendidik anak-anak bangsa di sudut-sudut negeri.
Kisah-kisah pengalaman mereka selama menjadi Pengajar Muda begitu menggugah, mengharukan, membuatmu meneteskan airmata, dan terkadang memancing senyum dan tawa. Aku baru saja menyelesaikan membaca kisah “Tentang 4,5 Jam’ (kisah seorang Pengajar Muda yang tinggal di tempat tidak ada listrik PLN, hanya genset yang menyala selama 4,5 jam dimalam hari), ketika listrik di rumahku padam. Dan aku hanya bisa mengela napas. Tidak merutuk, ngomel-ngomel dan ngedumel seperti biasanya. Bagaimana bisa aku mengeluh, sementara di banyak tempat di pelosok negeri sama sekali tidak ada aliran listrik? Betapa tidak bersyukurnya diri ini jika terus mengeluh, sementara nikmat ‘terang’ yang berlimpah di tempat kami, sama sekali belum dinikmati warga di pelosok negeri.
Kutipan favorit saya di buku ini adalah:
"Tidak selamanya kita akan menemukan matahari dalam kehidupan kita. Kadang ada kondisi dimana semuanya gelap. Seperti tak ada harapan. Karena itu kita harus menjadi manusia auksin. Di alam terang kita tumbuh subur, dan dalam gelap kita menjadi lebih tinggi, lebih dewasa. Layaknya auksin yang membimbing tumbuhan ke arah datangnya cahaya tidak ada harapan harus mebuat kita berusaha lebih keras untuk menemukan harapan tersebut, menciptakan jalan mereka sendiri. Dengan demikian kita tetap akan tumbuh lebih tinggi dan lebih subur. Entah ada atau tidak ada matahari dalam hidup kita.
Kita tidak boleh menyerah mengejar cita-cita. Hanya karena tidak ada harapan atau terdengar mustahil. Kegelapan ada untuk membuat kita lebih berani dan lebih dewasa menemukan cahaya. Bahkan di langit yang gelap pun ada secercah cahaya yang disebut bintang. Beranikah kita mencari cahaya itu dalam kegelapan pekat tanpa menyerah?
(Bagus Arya Wirapati)
View all my reviews
Tidak ada komentar:
Posting Komentar