Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 15 Agustus 2013

Damai Aceh

SALAM DAMAI 
Fikar W.Eda

salam pada langit yang kita junjung
menampung segala suara
puja puji, caci maki dan doa-doa
salam pada bumi yang kita jejak
permadani perak tanah manusia
sambutlah salam kami
salam sepuluh jari di atas kepala
mari rebahkan tubuh di halaman bunga
rentangkan sayap pada cahaya
hati bersih tanpa cela
tempat muasal khianat dan dendam bara
geraikan rambut di hulu sungai
sebarkan wahai wangi harumnya
kembalikan rencong pada sarung
anak panah pada busur
keris pada keramatnya
sebab telah begitu lama kita dalam duka cita
oleh amuk serakah kaum pendurhaka
takluk dihadapan pembidik
dalam kokang senjata tak berjiwa
telah begitu lama kita tergusur
terkubur di bukit-bukit tua
kematian saling berhimpit
jerit yatim memenuhi cakrawala
pintu-pintu berlumpur tanpa suara
maka sudah waktunya semua kembali
sambutlah salam kami
salam damai dengan Bismillah
damai langit menjadi payung
damai bumi menjadi jejak
permadani perak nusantara
            *** 


Damai di nanggroe ini akhirnya menjadi nyata. Tidak lagi berwujud harapan dalam kata. Tsunami yang memporak-porandakan Aceh akhir 2004 lalu membuka mata hati pihak-pihak yang bertikai untuk serius memikirkan masa depan Aceh. Mereka pun membuka jalan, melempangkan sebuah perdamaian. 15 Agustus 2005 menjadi hari bersejarah bagi rakyat Aceh. Senja itu untaian doa dan harapan dipanjatkan memenuhi langit. Masyarakat menyambut suka cita. Masjid Raya dipadati massa. Begitu indahnya perdamaian. Ah, akhirnya.. sejarah panjang dan kelam Aceh menuju titik terang.
               
Bias harapan berpendar. Telah begitu lama kita merindukan kedamaian. Damai yang melahirkan ketenangan dan rasa aman. Betapa tentramnya hidup tanpa propaganda, tanpa dentuman senjata, tanpa salakan peluru, tanpa dendam dan airmata.
              
 Kita pasti tidak mau mengenang lagi peristiwa demi peristiwa berdarah di tanah rencong ini. Akan tetapi sejarah tetap harus diprasasti agar anak cucu mengerti. Bukan untuk menguak tabir luka masa lalu, tetapi sebagai pembelajaran agar mereka tidak mengulangi kesalahan para pendahulunya.
                 
Sejarah terus bergulir, menguak pintu zaman. Dan kita masih diperbolehkan mengunjungi ruang kelam masa lalu. 1976, bara itu disulut. Sepuluh tahun sebelum kelahiranku. Dan duapuluh tahun kemudian aku didesak keingintahuan tentang berbagai hal yang menggejala di lingkungan kami. Tentara yang lalu lalang di jalan kampung yang dulu aku pahami sebagai implementasi dari AMD (ABRI masuk desa). Mereka sering meminjam Honda Astuti merah milik Abi. Para pemuda diwajibkan ikut program RATIH (Rakyat Terlatih). Aku sering menyaksikan mereka berlatih menggunakan bambu runcing.  Pos jaga selalu ramai tiap malam. Tidak ada yang berani meninggalkan kewajiban ronda kecuali jika gatal ingin digebuk tentara.
                
 Dua tahun kemudian angin reformasi berhembus. Demonstrasi marak dimana-mana. Aku terkagum-kagum (sekaligus terheran-heran) pada para mahasiswa yang dengan gagah berani mendobrak tirani. Virus demo pun mewabah di Aceh. Suatu sore kakakku pulang dengan tubuh basah oleh keringat. Ia memakai ikat kepala bertuliskan “KAMMI”. Dengan berapi-api kakak bercerita tentang demontrasi yang mereka gelar di alun-alun kota. Mereka menuntut dicabutnya DOM di Aceh. Aku bingung lagi. Apa itu DOM? Tak lama kemudian tiga huruf itu menjadi sangat populer. Daerah Operasi Militer. Aku bergidik ngeri mendengar kepanjangannya. Lebih ngeri lagi ketika mengetahui efek tiga kata itu. Tetapi pemikiran kanak-kanakku belum sepenuhnya memahami.
                 
Ketidakmengertianku bertambah ketika kemudian menggema ‘Referendum’.  Anak-anak sekolah tiba-tiba menjadi pelukis jalanan. Badan jalan dihiasi tulisan Referendum. Spanduk Referendum berkibar dimana-mana. Bahkan ada yang menambahkan kalimat heroik: Merdeka atau mati. Dalam kegamanganku berpikir, aku bertanya hendak kemana kita? Tidak ada yang memberi jawaban. Teman-temanku masih sibuk dengan kuas dan cat, bergerombol di jalanan depan sekolah. Bukan di ruang kelas tempat seharusnya kami berada. Begitu juga halnya para pemuda kampungku, kampung tetangga dan seluruh penjuru Nanggroe ini.
                 
Waktu yang bergulir membawa beragam kisah. Tabir misteri tersingkap. Aku tersentak dari ketidakmengertianku. Tersendat-sendat kueja deretan kisah suram di Nanggroe ini. Pedih, perih, pilu menyayat. Belum hilang rasa terkejutku, kengerian yang lain terhampar. Nyata kulihat dan rasakan. Kontak senjata merampas ketenangan dan kedamaian kami. Desingan peluru bersileweran mencari korban. Darah berpercikan di tanah rencong. Hawa kematian tragis yang ganjil merebak. Jerit tangis membahana. Penduduk berbondong-bondong meninggalkan desa. Melabuhkan kepedihan di tenda pengungsian. Selaksa pilu yang tak mampu teruraikan. Bahkan oleh air mata sekalipun.
                
 Tahun terus berganti, mengajarkan arti ketabahan dan kiat bertahan di Nanggroe yang dilanda kemelut konflik. Klimaks kepiluan itu terjadi tahun 2003. Saat pemerintah bersikukuh menerapkan darurat militer. Perang terbuka ditabuh. Laga kematian dipentaskan, diiringi tarian peluru. Ratusan sekolah dibumi hanguskan. Malam-malam yang tidak pernah sepi dari letusan bom serta rentetan tembakan. Dan Keesokan harinya iring-iringan jenazah mengelabukan pagi.
                
 Nestapa itu terus mencekam. Hingga tiba  penghujung 2004.  Saat bumi Aceh diguncang gempa dan diterjang tsunami. Gelombang di pagi Minggu 26 Desember itu meruntuhkan keangkuhan manusia. Betapa tidak berdayanya kita. Hamparan kematian yang teramat memilukan mengetuk nurani kemanusia. Kenyataan itu mengantarkan mereka yang bertikai pada tapal batas kesadaran, betapa tidak berartinya permusuhan dan kebencian yang dulu dikobarkan. Laut telah menggelorakan kemuakannya. Kini saatnya kita bersatu padu bergandengan tangan saling berangkulan dibawah payung kedamaian.
                 
Kini setahun sudah kita mereguk hawa sejuk kedamaian. Hidup pun menjadi tentram tidak lagi dicekam ketakutan. Perang berakhir. Akhirkan juga dendam dan permusuhan. Kita rajut kembali lembaran persaudaraan yang sempat terkoyak. Bersama kita menyongsong fajar cerah esok hari dengan tekad dan semangat menggebu membangun Aceh tercinta. Semoga damai ini abadi di sisi kita. Aamiin..
                                                                Banda Aceh, 15 Agustus 2006


15 Agustus 2013. Delapan tahun damai Aceh. 
Bagaimana? Apakah kita sudah benar-benar merasakan kedamaian?
Tidak ada lagi kontak senjata. Mungkin itu sudah cukup.
Lalu, apakah orang awam seperti kita ikut mencicipi kue perdamaian?
hehehe... rasanya tidak.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar