Fikar W.Eda
salam pada langit yang kita junjung
menampung segala suara
puja puji, caci maki dan doa-doa
salam pada bumi yang kita jejak
permadani perak tanah manusia
sambutlah salam kami
salam sepuluh jari di atas kepala
mari rebahkan tubuh di halaman bunga
rentangkan sayap pada cahaya
hati bersih tanpa cela
tempat muasal khianat dan dendam bara
geraikan rambut di hulu sungai
sebarkan wahai wangi harumnya
kembalikan rencong pada sarung
anak panah pada busur
keris pada keramatnya
sebab telah begitu lama kita dalam
duka cita
oleh amuk serakah kaum pendurhaka
takluk dihadapan pembidik
dalam kokang senjata tak berjiwa
telah begitu lama kita tergusur
terkubur di bukit-bukit tua
kematian saling berhimpit
jerit yatim memenuhi cakrawala
pintu-pintu berlumpur tanpa suara
maka sudah waktunya semua kembali
sambutlah salam kami
salam damai dengan Bismillah
damai langit menjadi payung
damai bumi menjadi jejak
permadani perak nusantara***
Damai di nanggroe ini akhirnya menjadi nyata.
Tidak lagi berwujud harapan dalam kata. Tsunami yang memporak-porandakan Aceh
akhir 2004 lalu membuka mata
hati pihak-pihak yang bertikai untuk serius memikirkan masa depan Aceh. Mereka pun
membuka jalan, melempangkan sebuah perdamaian. 15 Agustus 2005 menjadi hari
bersejarah bagi rakyat Aceh. Senja itu untaian doa dan harapan dipanjatkan memenuhi langit. Masyarakat
menyambut suka cita. Masjid Raya dipadati massa. Begitu indahnya perdamaian.
Ah, akhirnya.. sejarah panjang dan kelam Aceh menuju titik terang.
Bias harapan berpendar. Telah
begitu lama kita merindukan kedamaian. Damai yang melahirkan ketenangan dan
rasa aman. Betapa tentramnya hidup tanpa propaganda, tanpa dentuman senjata,
tanpa salakan peluru, tanpa dendam dan airmata.
Kita pasti tidak mau mengenang
lagi peristiwa demi peristiwa berdarah di tanah rencong ini. Akan tetapi sejarah tetap harus
diprasasti agar anak cucu mengerti. Bukan untuk menguak tabir luka masa lalu,
tetapi sebagai pembelajaran agar mereka tidak mengulangi kesalahan para
pendahulunya.
Sejarah terus bergulir, menguak
pintu zaman. Dan kita masih diperbolehkan mengunjungi ruang kelam masa lalu.
1976, bara itu disulut. Sepuluh tahun sebelum kelahiranku. Dan duapuluh tahun
kemudian aku didesak keingintahuan tentang berbagai hal yang menggejala di
lingkungan kami. Tentara yang lalu lalang di jalan kampung yang dulu aku pahami
sebagai implementasi dari AMD (ABRI masuk desa). Mereka sering meminjam Honda
Astuti merah milik Abi. Para pemuda diwajibkan ikut program RATIH (Rakyat Terlatih). Aku
sering menyaksikan mereka berlatih menggunakan bambu runcing. Pos jaga selalu ramai tiap malam. Tidak ada
yang berani meninggalkan kewajiban ronda kecuali jika gatal ingin digebuk
tentara.
Dua tahun kemudian angin
reformasi berhembus. Demonstrasi marak dimana-mana. Aku terkagum-kagum
(sekaligus terheran-heran) pada para mahasiswa yang dengan gagah berani
mendobrak tirani. ‘Virus’ demo pun mewabah di Aceh. Suatu sore kakakku pulang dengan tubuh basah
oleh keringat. Ia memakai ikat kepala bertuliskan “KAMMI”. Dengan berapi-api kakak bercerita
tentang demontrasi yang mereka gelar di alun-alun kota. Mereka menuntut
dicabutnya DOM di Aceh. Aku bingung lagi. Apa itu DOM? Tak lama kemudian tiga huruf itu menjadi
sangat populer. Daerah Operasi Militer. Aku bergidik ngeri mendengar kepanjangannya.
Lebih ngeri lagi ketika mengetahui efek tiga kata itu. Tetapi pemikiran kanak-kanakku belum
sepenuhnya memahami.
Ketidakmengertianku bertambah
ketika kemudian menggema ‘Referendum’. Anak-anak sekolah tiba-tiba menjadi pelukis
jalanan. Badan jalan dihiasi tulisan Referendum. Spanduk Referendum berkibar
dimana-mana. Bahkan ada yang menambahkan kalimat heroik: Merdeka atau mati.
Dalam kegamanganku berpikir, aku bertanya hendak kemana kita? Tidak ada yang memberi jawaban.
Teman-temanku masih sibuk dengan kuas dan cat, bergerombol di jalanan depan
sekolah. Bukan di ruang kelas tempat seharusnya kami berada. Begitu juga halnya
para pemuda kampungku, kampung tetangga dan seluruh penjuru Nanggroe ini.
Waktu yang bergulir membawa
beragam kisah. Tabir misteri tersingkap. Aku tersentak dari
ketidakmengertianku. Tersendat-sendat kueja deretan kisah suram di Nanggroe
ini. Pedih, perih, pilu menyayat. Belum hilang rasa terkejutku, kengerian yang
lain terhampar. Nyata kulihat dan rasakan. Kontak senjata merampas ketenangan
dan kedamaian kami. Desingan peluru bersileweran mencari korban. Darah
berpercikan di tanah rencong. Hawa kematian tragis yang ganjil merebak. Jerit
tangis membahana. Penduduk berbondong-bondong meninggalkan desa. Melabuhkan
kepedihan di tenda pengungsian. Selaksa pilu yang tak mampu teruraikan. Bahkan
oleh air mata sekalipun.
Tahun terus berganti,
mengajarkan arti ketabahan dan kiat bertahan di Nanggroe yang dilanda kemelut konflik. Klimaks
kepiluan itu terjadi tahun 2003. Saat pemerintah bersikukuh menerapkan darurat militer. Perang
terbuka ditabuh. Laga kematian dipentaskan, diiringi tarian peluru. Ratusan
sekolah dibumi hanguskan. Malam-malam yang tidak pernah sepi dari letusan bom serta rentetan tembakan. Dan Keesokan harinya
iring-iringan jenazah mengelabukan pagi.
Nestapa itu terus mencekam.
Hingga tiba penghujung 2004. Saat bumi Aceh diguncang gempa dan diterjang
tsunami. Gelombang di pagi Minggu 26 Desember itu meruntuhkan keangkuhan
manusia. Betapa tidak berdayanya kita. Hamparan kematian yang teramat memilukan
mengetuk nurani kemanusia. Kenyataan itu mengantarkan mereka yang bertikai pada
tapal batas kesadaran, betapa tidak berartinya permusuhan dan kebencian yang dulu dikobarkan. Laut
telah menggelorakan kemuakannya. Kini saatnya kita bersatu padu bergandengan
tangan saling berangkulan dibawah payung kedamaian.
Kini setahun sudah kita mereguk hawa sejuk
kedamaian. Hidup pun menjadi tentram tidak lagi dicekam ketakutan. Perang
berakhir. Akhirkan juga dendam dan permusuhan. Kita rajut kembali lembaran
persaudaraan yang sempat terkoyak. Bersama kita menyongsong fajar cerah esok
hari dengan tekad dan semangat menggebu membangun Aceh tercinta. Semoga damai
ini abadi di sisi kita. Aamiin..
Banda
Aceh, 15 Agustus 2006
15 Agustus 2013. Delapan tahun damai Aceh.
Bagaimana? Apakah kita sudah benar-benar merasakan kedamaian?
Tidak ada lagi kontak senjata. Mungkin itu sudah cukup.
Lalu, apakah orang awam seperti kita ikut mencicipi kue perdamaian?
hehehe... rasanya tidak.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar