Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 14 Agustus 2013

Meminta Maaf dan Memaafkan



Masih dalam suasana Idul Fitri. Topik ini sangat relevan kan?

Meminta maaf dan memaafkan. Mana yang lebih sulit?

Meminta maaf memerlukan kerendahan hati. Memaafkan membutuhkan kebesaran jiwa. Keduanya menuntut kita untuk melucuti ego. Dengan meminta maaf kita harus melibas rasa gengsi, dan dengan memaafkan harus bersiap menyembuhkan luka.

Ketika apel perdana seusai lebaran Senin kemarin, Bapak Kepala kami menyebutkan bahwa memaafkan lebih sulit. Karena kita butuh waktu untuk melupakan rasa sakit hati, kecewa dan luka hati lainnya. Ucapan itu terbukti benar adanya. Bahwa memaafkan memang sulit. Selepas acara salam-salaman, terungkap jika tidak semua saling memaafkan. “saya masih sakit hati. Ucapannya yang pedih selalu terngiang. Saya tidak bisa memaafkannya. Tidak untuk saat ini, kata salah seorang yang saya hormati di kantor.  Aku hanya bisa mengangguk.

Seorang teman yang sudah lama marahan dengan seorang rekan kerja sambil bercanda juga nyelutuk “ Tadi si X bilang kita udah saling memaafkan kan? Saya bilang belum. Baru sebagian yang saya maafkan.” Katanya sambil tertawa. Aku ikut tersenyum. Meskipun disampaikan dengan canda, tetapi aku yakin kata-kata itu mewakili suara hati.

Di sisi lain, meminta maaf juga tidak kalah sulitnya. Tentang ini juga terungkap banyak fakta. Jangankan meminta maaf, bahkan terkadang ada orang yang menolak bersalaman. Menghadapi orang seperti ini kita hanya bisa mengelus dada. Kok ada ya manusia, sudah jelas salah, tidak mau minta maaf, dan kelakuan begitu jumawa.

Jika sudah begini, lalu apa maknanya Idul Fitri bagi kita? Apa artinya SMS atau broadcast ucapan selamat lebaran? Halal bihalal, salam-salaman hanya seremoni belaka. Dan ucapan mohon maaf lahir batin hanya sekadar standar pemanis lisan di hari raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar