Masih dalam suasana Idul Fitri. Topik ini
sangat relevan kan?
Meminta maaf dan memaafkan. Mana yang lebih
sulit?
Meminta maaf memerlukan kerendahan hati.
Memaafkan membutuhkan kebesaran jiwa. Keduanya menuntut kita untuk melucuti
ego. Dengan meminta maaf kita harus melibas rasa gengsi, dan dengan memaafkan
harus bersiap menyembuhkan luka.
Ketika apel perdana seusai lebaran Senin kemarin, Bapak Kepala kami menyebutkan
bahwa memaafkan lebih sulit. Karena kita butuh waktu untuk melupakan rasa sakit
hati, kecewa dan luka hati lainnya. Ucapan itu terbukti benar adanya. Bahwa
memaafkan memang sulit. Selepas acara salam-salaman, terungkap jika tidak semua
saling memaafkan. “saya masih sakit hati. Ucapannya yang pedih selalu
terngiang. Saya tidak bisa memaafkannya. Tidak untuk saat ini,” kata salah seorang yang saya hormati di
kantor. Aku hanya bisa mengangguk.
Seorang teman yang sudah lama marahan dengan
seorang rekan kerja sambil bercanda juga nyelutuk “ Tadi si X bilang kita udah
saling memaafkan kan? Saya bilang belum. Baru sebagian yang saya maafkan.” Katanya sambil
tertawa. Aku
ikut tersenyum. Meskipun disampaikan dengan canda, tetapi aku yakin kata-kata itu
mewakili suara hati.
Di sisi lain, meminta maaf juga tidak kalah
sulitnya. Tentang ini juga terungkap banyak fakta. Jangankan
meminta maaf, bahkan terkadang ada orang yang menolak bersalaman. Menghadapi orang
seperti ini kita hanya bisa mengelus dada. Kok ada ya manusia, sudah jelas
salah, tidak mau minta maaf, dan kelakuan begitu jumawa.
Jika sudah begini, lalu apa maknanya Idul
Fitri bagi kita? Apa artinya SMS atau broadcast ucapan selamat lebaran? Halal bihalal,
salam-salaman hanya seremoni belaka. Dan ucapan mohon maaf lahir batin hanya sekadar standar pemanis
lisan di hari raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar